Pernik

Bukit Berbatu Puruk Bahio di Tumbang Olong

PALANGKA RAYA, Pnet – Dikelilingi oleh hutan perawan di jalur pegunungan Muller-Schwaner, kabupaten Murung Raya banyak menyimpan keindahan alam eksotis dan menantang para petualang yang menyukai alam yang masih belum terjamah oleh banyak tangan manusia.

Salah satunya adalah puncak Puruk Bahio, sederatan bukit berbatu yang memanjang dan membentuk pemandangan unik. Dengan ketinggian diatas 1.800 mdpl (meter diatas permukaan laut) atau tepatnya 193 feet apl (aras pusat laut), Puruk Bahio tersusun oleh bentangan batuan pegunungan berstruktur bertumpuk dan menjulang keatas. Hal ini sangat berbeda pada batuan pegunungan yang biasanya berbentuk bulat atau oval.

Unil dan Topan, 2 orang anggota komunitas pencinta alam setempat mengatakan, dia bersama sembilan rekannya yang tergabung dalam “Murung Raya Backpacker” mencoba menaiki bukit ini pada tahun 2011 lalu. Komunitas ini pada saat sekarang sudah mengalami penambahan anggota sesama pencinta alam di kabupaten Murung Raya. Dan kini mereka berdua menceritakannya kembali kepada Pnet.

Dengan jarak tempuh sekitar 6 jam dari ibukota kabupaten Murung Raya, Puruk Cahu, puncak Puruk Bahio dapat dicapai menggunakan sepeda motor atau mencarter mobil. Biasanya harga carter mobil mencapai Rp. 1.500.000,- atau Rp. 350.000,-/orang. Dengan melewati sebagian jalan beraspal, diselingi pula dengan jalan tanah kuning khas daerah perbukitan.

Arah perjalanan menuju desa Tumbang Olong, kecamatan Uut Murung pun akan melewati jalan yang dikanan kirinya sangat jarang ditemui rumah penduduk. Sesampainya disana, kita harus menyeberang sungai Murung menggunakan kapal sederhana sejenis ferry yang dilengkapi dengan mesin. Kapal tradisional ini mampu mengangkut mobil dengan biaya sekitar Rp. 300.000,-/mobil atau untuk sepeda motor sebesar Rp. 25.000,-/motor. Dengan lama waktu penyeberangan sekitar 10 menit.

Sesampainya di dermaga seberang, kita diharuskan untuk meminta izin terlebih dahulu kepada para penduduk setempat, dan menyampaikan tujuan kita untuk menikmati keindahan alam Puruk Bahio sebelum benar-benar melakukan pendakian. Sampai saat ini, tidak ada tarif yang diberlakukan bagi para pendaki, kecuali hanya meminta izin ke penduduk sekitar. Setelah itu, parkirkan kendaraan atau titipkan kepada penduduk setempat dan pendakian pun dimulai.

15 menit sebelum memasuki area pendakian, kita akan disuguhi pemandangan bebatuan besar mirip seperti candi, biasa disebut juga dengan “Candi Bahio”. Namun nampaknya batuan tersebut terbentuk oleh abrasi air. Mungkin dahulu kala, di daerah itu merupakan daerah yang digenangi oleh air dalam jumlah besar.

Sebelum mendaki, periksa kembali semua kelengkapan, tetap waspada, gunakan perlengkapan pendakian yang memadai mengingat banyaknya bebatuan yang menjulang bertumpuk-tumpuk. Perjalanan ke puncak akan memakan waktu 3-4 jam. Namun tidak perlu khawatir, karena tersedianya beberapa celah untuk tempat beristrahat.

Semua pendakian yang cukup melelahkan akhirnya bisa terbayarkan ketika sampai di puncak Puruk Bahio. Pemandangan dari atas cukup membuat mata menjadi segar. Tampak hamparan batuan yang saling bertumpuk-tumpuk dan rimbunnya pepohonan tampak dari atas.

Ketika dirasa sudah cukup puas, kita akan kembali menuruni Puruk Bahio sekitar 3-4 jam sama seperti ketika melakukan pendakian. Walaupun nantinya hari sudah larut malam ketika sampai dibawah, para penduduk sekitar akan dengan senang hati memberikan tumpangan tempat untuk bermalam asal kita memintanya.(MJ/News)

Komentar Anda
Share via
Copy link
Powered by Social Snap